March 22, 2016

How Uber Change The World with Ideas?

Mendengar pemberitaan media massa hari ini, membuat saya tergelitik untuk menceritakan insight yang saya tonton di Ted Talks, sekitar 1 minggu lalu. Saya cukup kaget melihat dengan langsung bagaimana supir taksi, angkot dan bajaj berkumpul dan menutup jalan. Miris rasanya melihat Indonesia yang kini sudah beranjak maju, namun harus terhambat dengan segala polemiknya. Seorang supir ojek online yang saya tumpangi pun berkata, "Hari ini kita ga pakai atribut ya, Mbak. Takut soalnya kemarin ada yang digebukin pas lewat area demo." Astaga, begitukah mental masyarakat kita? Menghakimi mereka yang berada di depan kita? Marahkah kita ketika persaingan menghimpit dan surat 'resmi' dijadikan perisai pembelaan? Mengapa tidak duduk bersama dan cari solusi bersama? Bukankah kita negara musyawarah dan kekeluargaan?

Jika Anda punya pemikiran yang menggelitik seperti saya, Anda harus coba menonton video dari Travis Kalanick, pendiri Uber. Tahukah Anda? Sejak puluhan tahun lalu, transportasi 'sharing' seperti Uber dengan harga ekonomis sudah didemo, ditahan oleh regulasi, yang akibatnya menyebabkan harga transportasi menjulang tinggi dan manusia, harus membeli mobil sendiri, dibebankan pula dengan biaya parkir, pajak, dan bahan bakar yang tentu mencekik.


Dengan meledaknya kepemilikan mobil, tentu sudah dapat diprediksi apa yang terjadi saat ini. Biaya bahan bakar meningkat, global warming, kemacetan. Manusia menjadi begitu tergantung dengan kendaraan pribadi dan sebagian dari mereka harus pasrah duduk di transportasi yang tidak semakin baik pelayanannya.


Lalu kemudian, transportasi berbasis aplikasi mulai bermunculan. Uber, Grab, Gojek, jelas membantu banyak orang. Waktu tempuh menjadi lebih efektif dan biaya transportasi bisa ditekan. Banyak orang bisa bekerja lebih fleksibel, bahkan membuka lapangan kerja baru bagi mereka yang mau bergerak maju. Terlepas dari segala isu dan problematika yang masih terjadi saat ini, jelas ada perubahan ke arah lebih baik yang saat ini terjadi.

Lebih jauh lagi, Travis Kalanick dengan Uber tak berhenti berinovasi. Bayangkan, nantinya penggunaan Uber bisa di-sharing. Disebut dengan fasilitas UberPOOL, dimana penumpang bisa menekan trip cost (biaya perjalanan) dengan sharing Uber dengan penumpang lain yang berada pada jalur yang sama dengan tujuan mereka. Dan apa efeknya? Biaya perjalanan bisa ditekan hingga 50% dan semakin banyak orang berada dalam 1 mobil yang sama. Dalam jangka panjang, tidak mungkin kemacetan tidak dapat dikurangi.


Tidak hanya berhenti disitu, Travis juga menambahkan fasilitas lainnya, yaitu UberCOMMUTE. Dengan fitur ini, seseorang yang akan pergi mengendarai mobilnya, bisa menyalakan aplikasi Uber dan seketika itu langsung menjadi Uber Driver. Apa hasilnya? Semua orang bisa menjadi Uber Driver, yes. Tapi yang lebih penting lagi, ketika mereka berangkat dengan mobil ke tempat kerja, mereka juga bisa sharing cost dengan penumpang lain yang akan berangkat ke arah yang sama. Hasilnya? Jelas, semakin banyak orang yang berada dalam satu mobil.


Ide dari Travis Kalanick ini cukup membuat saya kagum. Apa tujuan akhirnya? Pemerintah tidak perlu lagi menyediakan banyak lahan parkir, dan lahan hijau bisa dibangun. Kepemilikan mobil yang mencekik tidak perlu ditakuti lagi. Manusia semakin efektif dan efisien.

Ya, terlepas dari itu semua. Mungkin masih banyak yang harus kita benahi. Mulai dari diri kita sendiri. Maukah kita mendukung perubahan?


Video lengkap bisa ditonton disini.

March 6, 2016

North's Foodventure : Ebisuya - Bandengan

Sejak beberapa bulan yang lalu, saya sudah melewati restoran Ebisuya ini berulang kali. Desainnya cukup mencolok, serta membuat penasaran karena berada di pinggir jalan daerah Bandengan, Jakarta Utara. Awalnya, saya dan pacar saya agak bingung, kenapa ada restoran Jepang yang cukup besar di tengah-tengah jalan Bandengan, yang umumnya berdiri ruko-ruko dan gedung kantor? Kami sempat berpikir, mungkin ini semacam Sushi Masa Next to Be. Waktu pertama kali mencoba Sushi Masa, kami juga cukup shock, menemukan restoran super enak yang ada di dalam pasar ikan. Hmmm.. sudah kebayang, pasti enak!

Interior Ebisuya : terasa suasana Jepang. Banyak lampion dan pernak-pernik Jepang
Kami sampai di Ebisuya sekitar jam 19.00. Kami pikir ramai karena parkirannya cukup penuh. Namun ternyata, hanya beberapa meja di lantai dasar yang terisi. Kebetulan, saya tidak melihat keadaan di lantai 2. Mungkin saat itu lebih penuh.

Penerangannya cukup hangat dan interiornya menarik dengan bendera & kaligrafi khas Jepang

Dari segi interior, Ebisuya ini termasuk nyaman. Sama seperti kebanyakan restoran Jepang, furniture-nya didominasi dengan meja dan kursi kayu. Terdapat juga sushi bar di tengah-tengah ruangan yang langsung berhadapan dengan chef Ebisuya.  Saya dan pacar akhirnya memutuskan duduk di sushi bar, sekalian ingin melihat proses pembuatan sushinya.

First impression: "Yeay! Chef-nya orang Jepang! Pasti enak" (sambil membayangkan sushi yang fresh.. nyaaam...)

Dari segi service, pelayanannya termasuk cepat. Ketika sampai, kami langsung ditawari duduk, diberikan menu, dan handuk hangat seperti di Sushi Masa. Sayangnya, menu Ebisuya agak membingungkan. Tidak ada bagian sushi yang umum. Saya agak kebingungan waktu ingin memesan Salmon Sashimi dan Salmon Roll. Saya hanya menemukan Salmon Belly Sushi. Akhirnya, saya pun memesan beberapa menu andalan, termasuk Bamboo Rice Set dan Salmon Sashimi. Menurut saya, ketika mengunjungi restoran Jepang, penting untuk mencoba Salmon Sashimi-nya. Selain ini adalah favorit saya, kesegaran bahan juga bisa dinilai dari Salmon Sashimi-nya. Karena umumnya, orang Jakarta kalau pergi ke restoran Jepang atau sushi, pasti tidak akan melewatkan salmonnya. Jadi, salmon segar adalah salah satu andalan di restoran manapun yang harus dijaga kualitasnya.

Untuk minumannya, Cold & Hot Ocha-nya refill kok! :)
Ocha | IDR 8K

Salmon Sashimi : the first dish! | IDR 38K

Setelah menunggu sekitar 15 menit, Salmon Sashimi kami pun dihidangkan. Saya dan pacar cukup kaget melihat tampilan dari hidangan ini. Dari segi dekorasi, cukup manis dan penuh. Yang mengagetkan adalah potongan sashimi-nya yang cukup tebal (sekitar 1 cm). Sayangnya, hanya ada 3 slices. Mungkin dari segi gram, sama saja seperti di Sushi Tei. Ya sudah, tanpa tanggung-tanggung, langsung hap, masuk! Saat mengigitnya, potongan ikannya berasa (ga cuma sekedar nyelip di gigi). Tapi sayangnya, kesegaran ikannya kurang. Rasanya jadi tidak senikmat biasanya.

Second dish : Ika Sugata Yaki | IDR 75K

Menu kedua kami adalah Ika Sugata Yaki, yaitu semacam cumi yang dibakar dan dimakan dengan celupan saus kecap. Potongan cuminya juga cukup besar dan dimasak dengan pas. Si pacar sih kegirangan, karena cuminya ga alot dan dia memang maniak cumi. Yang bikin saya senang di hidangan ini karena ada telur cumi yang tertinggal di dalam potongan cumi dan rasanyaaa.... nyaaam!

Third dish : California Roll | IDR 45K
Selanjutnya ada California Roll. Seperti biasa, ini selalu menjadi comfort food yang bikin kenyang. Isinya crab stick dan avocado. Rasanya sih biasa saja karena agak disayangnya nasinya kelembekan dan terlalu lengket.


Seiro Gomoku Beef | IDR 90K

Hidangan utama pun datang: Seiro Gomoku Beef. Melihat porsinya, saya cukup takjub. Mungkin Ebisuya ini memang menyediakan porsi yang lebih besar ketimbang restoran Jepang lainnya. Seiro Gomoku Beef merupakan nasi daging yang dimasak di kukusan bambu, disajikan dengan makanan pendampin: Salmon Katsu, Miso Soup dan acar.

Seiro Gomoku Beef : isinya daging sapi, dengan bawang bombay dan rebung tumis

Saat melihat tampilan hidangan ini, saya sudah berpikir, "Wah, enak nih! Macam Yoshinoya versi tradisional." Sayangnya, ekspektasi saya langsung berubah seketika saat menyumpit nasi dan dagingnya untuk pertama kalinya. "Ini kok ga ada rasanya ya?" Pacar saya pun berpendapat sama. Hambar. Saya berulang kali memasukkan soyu dalam jumlah cukup banyak dan cabe bubuk supaya ada rasanya. Saya juga mencoba miso soup-nya, biasa saja. Hambar dan tidak membantu rasa nasinya. Salmon Katsu? Benar-benar di luar ekspektasi. Dagingnya lembek, tidak padat dan terasa seperti gorengan cepat saji yang digoreng setelah keluar dari freezer. Saya pun memutuskan untuk tidak menghabiskan hidangan ini.

Sebenarnya, saat hidangan ini datang, ada 1 hidangan yang menurut saya cukup enak daripada hidangan-hidangan sebelumnya, yaitu Rock and Roll (IDR 59K). Ini adalah sushi roll yang terbuat dari daging babi dan diatasnya ada topping Salmon Mentai. Tampilannya mirip dengan Dragon Roll, hanya saja dari daging babi :D Boleh dicoba ketika berkunjung ke Ebisuya ;)

Overall, petualangan makan di Utara kali ini biasa saja, malah cenderung tidak puas. Perut sih kenyang, tapi lidah tetap merasa ada yang kurang...

Mau kembali lagi?
Rasanya tidak. Meski dari segi interior dan tampilan makanan cukup menarik, namun semuanya tetap ditentukan dari rasa. Dari segi rasa, tentu tidak sebanding dengan kenikmatan yang diberikan Sushi Masa, padahal dari segi harga hampir sama. Tapi jika kamu penasaran, tidak ada salahnya dicoba. Prinsipnya : mending coba sekali, daripada penasaran seumur hidup :)


Ebisuya
Restoran Jepang
Jl. Bandengan Utara No. 20, Jakarta Utara
Range harga : IDR 20K - IDR 100K (IDR 300K+ for couple)


















March 1, 2016

Since July 2008

Sudah hampir 8 tahun, halaman-halaman putih ini menjadi tempat saya berbagi cerita. Mulai dari soal gebetan, soal pacar, soal kuliah, hingga soal pilihan-pilihan dalam hidup. Halaman-halaman ini adalah rekaman kenangan nyata lewat jari-jemari saya yang juga tak kunjung berhenti menuliskannya. Dan hari ini, halaman-halaman itu kembali bersih. Putih.

Bukan, bukan karena saya ingin melupakannya. Tapi kadang ada beberapa hal dalam hidup yang harus disimpan, dan dimulai dengan yang baru. Ya, seperti catatan hidup saya kini. Menulis selama ini tidak pernah menjadi hal yang penting untuk saya. Tidak pernah saya berpikir untuk hidup hanya dengan menulis. Namun, setelah 2 kali berputar di dunia agency periklanan, kini saya tahu apa yang paling saya suka, apa yang seharusnya saya perjuangkan. Mungkin banyak yang bilang saya gila. Bagaimana tidak, jaminan karir sukses di ujung mata. Tapi jika kesuksesan itu mengharuskan saya merelakan apa yang paling penting dalam hidup ini, apakah saya mau mengambil resikonya?

Ada apa di depan sana? Saya tidak tahu. Sama seperti jari-jemari saya yang akan terus menulis, begitupun hidup saya akan terus berjalan. 

Ya, inilah saya.

Hanya seorang wanita yang bercita-cita memiliki toko rotinya sendiri. Seorang calon istri, yang ingin memprioritaskan waktunya untuk membahagiakan keluarga kecilnya kelak. Seorang penulis, yang ingin berbagi pandangannya soal dunia. Seorang pendengar, dengan latar belakang marketing dan periklanan, yang siap membantu para pejuang bisnis kecil seperti dirinya. #ithinkpossible

"When you believe in yourself, everything is possible." -YS

Sekali lagi. Senang berkenalan dengan kalian semua! :) 


February 27, 2016

Simple, yet still being question to be answered

Heart to me : "Are you happy?"
Me : "I think so..."
Heart to me : "Are you really... really happy?"
Me : "... ... ..."

Seseorang pernah berkata pada saya, saat kita sedang mencari jawaban atas sebuah pertanyaan, tanyakanlah 2 hal ini. "Are you happy?" dan "Are you really-really happy?" Simple, yet still being question to be answered. Mungkin untuk menjawab pertanyaan pertama sangat mudah, tapi menjawab pertanyaan kedua itu yang sulit. Karena sekali lagi, kamu menanyakan hal yang sama kepada dirimu, kepada hatimu. Sebuah penegasan : Apa ini benar-benar yang kamu inginkan? Apa ini benar-benar menjadi gambaranmu selanjutnya?

"2 things : If it makes you happy, do it. If doesn't, then don't."

---------------------------------------------------------------

A story before it turns to 25.